Indonesia menghadapi paradoks ekonomi: likuiditas melimpah namun investasi produktif stagnan. Reformasi perbankan dan peran strategis Danantara diperlukan untuk mengubah struktur investasi dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia sedang menghadapi paradoks yang semakin sulit disangkal. Likuiditas melimpah, tetapi investasi produktif jalan di tempat. Dana ratusan triliun rupiah telah masuk ke sistem perbankan, tetapi dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja, ekspansi industri, dan lonjakan ekspor nyaris tidak sebanding. Pertumbuhan ekonomi tetap bertahan di kisaran 5 persen, stabil tetapi tumpul. Ini bukan soal kurang stimulus, melainkan ketidakberdayaan struktur intermediasi. Angka paling jujur terlihat dari ICOR Indonesia yang bertahan di kisaran 6 hingga 6,5. Artinya, setiap tambahan satu unit output menuntut investasi yang jauh lebih besar dibanding negara Asia yang berhasil mendorong industrialisasi cepat dengan ICOR 3,5–4,5. Dengan struktur seperti ini, menambah likuiditas hanya akan memperbesar penumpukan dana di sektor jangka pendek dan konsumsi, bukan menggerakkan mesin produksi. Masalahnya ada pada desain perbankan, sementara sistem keuangan Indonesia masih sangat tergantung kepada perbankan. Sistem perbankan Indonesia kuat secara neraca, tetapi sempit secara fungsi. Bank sangat nyaman menyalurkan kredit konsumsi dan modal kerja jangka pendek, tetapi gagap ketika berhadapan dengan pembiayaan industri, hilirisasi, ekspor, dan proyek berisiko tinggi yang membutuhkan struktur jangka panjang. BACA JUGA Regulasi memaksa bank beroperasi secara terfragmentasi: pembiayaan di satu sisi, investasi dan advisory di sisi lain, pasar modal di entitas berbeda. Integrasi hanya mungkin lewat banyak anak usaha yang mahal, lambat, dan tidak efisien. Inilah sebabnya kebijakan likuiditas besar termasuk penempatan dana pemerintah tidak pernah benar-benar menjadi game changer. Uangnya masuk ke bank, tetapi bank tidak memiliki ruang kelembagaan untuk mengubahnya menjadi investasi jangka panjang. Likuiditas akhirnya berputar-putar di sistem keuangan, bukan mengalir ke pabrik, kawasan industri, atau basis ekspor baru. Artikel ini telah tayang di Bisnis.com dengan judul “OPINI: Ratusan Triliun Masuk Bank, Mengapa Ekonomi Tetap Jalan di Tempat?”, Klik selengkapnya di sini: https://ekonomi.bisnis.com/read/20260125/9/1946912/opini-ratusan-triliun-masuk-bank-mengapa-ekonomi-tetap-jalan-di-tempat.Penulis : Anto Prabowo – Bisnis.com Download aplikasi Bisnis.com terbaru untuk akses lebih cepat dan nyaman di sini:Android: http://bit.ly/AppsBisniscomPSiOS: http://bit.ly/AppsBisniscomIOS Navigasi pos Ciayumajakuning Sumbang Realisasi Investasi Rp12,79 Triliun ke Kawasan Rebana.